loading

Krisis Info Terpercaya, Media Sosial Jadi Ajang Ujaran KebencianPosted by On October 7, 2019


Sedang hangat kasus-kasus yang beredar di media baik televisi maupun media yang lainnya mengenai ujaran kebencian. Ujaran kebencian atau dalam bahasa Inggris disebut hate speech merupakan suatu tindakan provokatif yang mengandung hinaan kepada seseorang atau suatu kelompok yang dapat berupa hoax. Ujaran kebencian di media sosial dapat berujung pada pelanggaran UU ITE.

Untuk Anda yang sering mengeluh, kesal, dan lain sebagainya kemudian meluapkannya di media sosial sebaiknya berhati-hati atau lebih baik ditinggalkan, karena sekarang pemerintah benar-benar mengawasi yang ditandai dengan adanya undang-undang yang mengatur masalah ITE. Seperti yang sering dilihat bahwa kini undang-undang tersebut sudah makin diperketat lagi.

Faktor Penyebab Ujaran Kebencian

Setiap orang pasti pernah mengalami kekesalan, kekecewaan, dan rasa tidak suka pada seseorang atau suatu kelompok. Terkadang hal tersebut rasanya ingin diungkapkan agar rasa yang terpendam dalam dada bisa keluar dan merasa lega. Namun beberapa orang tidak mengerti atau bahkan tidak bisa mengontrol emosi yang meluap dengan baik dan benar.

Akibat emosi yang tak terkontrol itu lah muncul cuitan yang bertaburkan ujaran kebencian yang mungkin berawal dari sindiran. Beberapa faktor dapat melatarbelakangi munculnya ujaran kebencian di sosial media, mulai dari adanya dendam, kepentingan tertentu, dan yang lainnya. Faktor tersebut biasanya berawal dari masalah pribadi.

1. Kepentingan tertentu

Faktor utama yang melatarbelakangi adanya ujaran kepentingan adalah kepentingan pribadi maupun golongan. Seperti halnya kepentingan politik, ujaran kebencian berupa kata-kata umpatan sering dikait-kaitkan dengan pihak tertentu yang dijadikan objek untuk dijatuhkan. Pihak tersebut dapat merupakan seorang rival politik maupun lawan lainnya yang ingin dijatuhkan popularitas maupun kedudukannya.

Di balik umpatan tersebut terkandung maksud untuk membuat keretakan sosial yang selama ini berhubungan secara harmonis. Namun karena adanya kepentingan tadi, hubungan yang dahulunya erat kini tak lagi erat disebabkan adanya ujaran kebencian yang melebih-lebihkan masalah sepele menjadi masalah yang lebih besar lagi yang menyangkut banyak orang.

2. Dendam

Dendam juga dapat menjadi faktor penyebab ujaran kebencian. Dendam merupakan perasaan ingin membalas perlakuan seseorang atau keadaan yang ditimbulkan seseorang kepada seseorang yang merasa dirugikan. Akibat dendam tersebut muncul perasaan ingin membalas salah satunya melalui ujaran kebencian agar lebih banyak orang yang membenci, tak hanya dirinya.

Penyakit hati yang satu ini memang sangat berat untuk dihilangkan karena dendam merupakan perasaan lama yang terpendam dan jika sudah mencapai puncak cara apapun bisa dilakukan tanpa memperhatikan bahwa cara tersebut berbahaya untuk kelangsungan hubungan kekeluargaan maupun nyawa seseorang itu sendiri.

3. Tokoh penting

Faktor yang satu ini sangat berpengaruh besar terhadap kemunculan ujaran kebencian yang dapat meluas. Seperti yang kita tahu bahwa tokoh penting memiliki pengaruh yang sangat besar dalam masyarakat dan cenderung banyak diikuti oleh masyarakat yang tunduk terhadap adat. Jika seorang tokoh penting mulai menebar kebencian maka makin banyak orang yang ikut menyebarkan kebencian.

Tokoh penting ini dapat berupa seseorang yang memang sudah tertanam sosoknya dalam masyarakat secara dalam karena mungkin sering muncul di media-media seperti televisi dan yang lainnya. Bisa juga seseorang yang banyak diidolakan sehingga  kecintaan pada tokoh tersebut bersangkut paut pula dengan tingkah laku dan ucapan yang dilakukannya.

4. Berita hoax

Tidak sedikit berita palsu yang menjadi dalang dari adanya ujaran kebencian terhadap suatu tokoh tertentu. Pihak yang tidak bertanggungjawab dengan mudahnya menyebarkan berita melalui masyarakat yang kurang bisa tabayyun dengan informasi yang tersebar. Yang penting viral, berita langsung disebarkan secara cuma-cuma.

Bahasa Anak Bangsa yang Perlu Dibenahi

Hal yang perlu dikoreksi dari adanya ujaran kebencian adalah pendidikan bahasa yang tertanam pada generasi bangsa. Akhir-akhir ini bahasa-bahasa yang tidak sopan dan cenderung kasar banyak dilontarkan oleh warganet yang bercuit di media sosial. Secara tidak langsung bahasa tersebut menjadi konsumsi banyak orang dan akhirnya dapat menjadi bahasa sehari-hari.

Bahasa-bahasa buruk tersebut dipandang menjadi suatu yang unik dan sedang populer sehingga banyak digunakan dalam masyarakat terutama kaum muda. Bahasa yang cenderung kasar, sedikit apapun jika digunakan maka akan berdampak besar pada hal yang dikasari. Bahasa kasar dapat melebih-lebihkan hal yang kecil.

Umpamanya, seseorang marah dengan orang lain kemudian melontarkan kemarahannya dengan cacian dan makian atau bahasa kasar maupun bahasa sindiran yang kasar, maka secara tidak langsung ia telah melebih-lebihkan apa yang seharusnya tidak dilebihkan. Karena sejatinya kemarahan adalah ungkapan hawa nafsu yang tidak terkontrol.

Ini menjadi pekerjaan rumah untuk pemerintah agar penanaman bahasa yang baik bisa dimasukkan dalam pendidikan di sekolah-sekolah. Selama ini sekolah hanya mengajarkan bahasa yang baik dan sesuai dengan kaidah kebahasaan. Namun sekolah tidak mengajarkan untuk memahami makna dan nilai kesopanan pada bahasa yang dituturkan, akhirnya sekarang merebak menjadi ujaran kebencian.

Penyebaran informasi melalui media online yang memang bisa diakses secara cross platform dimanapun, kapanpun, dan sistem operasi apapun akan menjadi sangat bahaya jika penanaman nilai etika pada kebahasaan tidak dikedepankan. Orang akan seenaknya sendiri berbicara di depan publik meskipun kebebasan berbicara dan berpendapat itu menjadi hak seluruh orang.

Adanya UU ITE ini mungkin membantu dalam menjaga etika masyarakat dalam berbicara melalui media elektronik. Namun hal itu tidak berlaku tatkala budaya bahasa yang buruk meracuni generasi muda yang akhir-akhir ini dijumpai banyak sekali yang menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu diucapkan karena mengandung makna yang tidak baik.

Selain dari kebahasaan yang perlu dibenahi, pembenahan jalur-jalur komunikasi juga perlu dilakukan agar kualitas bahasa masyarakat bisa terbentuk dengan baik. Miris rasanya melihat banyak media-media online dengan penggunanya yang begitu banyak, dan mereka banyak yang melontarkan kata-kata yang bukan merupakan kata yang beretika.

Tak hanya masyarakat biasa yang teracuni dengan ucapan yang tidak berbobot dan cenderung palsu, pera petinggi juga tak luput dari sorotan mengenai kurangnya etika kebahasaan. Terbukti dengan adanya sindiran-sindiran di cuitannya yang menjerumus pada tindak pencemaran nama baik dan ujaran kebencian kepada pihak tertentu.

Konflik yang terjadi baik antarsuku maupun antarras juga berawal dari etika bahasa yang buruk maupun berita palsu yang membumbui setiap informasi yang tersebar. Hal ini tentu dapat merusak kesatuan masyarakat yang dahulunya berbaur dengan rukun tanpa memandang golongan, agama, dan suku bangsa. Akhirnya akan timbul kebencian terhadap suatu etnis maupun agama.

Sudah selayaknya kita sebagai manusia ciptaan Tuhan yang beretika harus bisa memandang fenomena di atas sebagai sebuah pembelajaran agar kita bisa turut serta membangun bangsa dengan memperbaiki etika bahasa untuk mencegah timbulnya ujaran kebencian. Dalam kaitannya dengan berita palsu, alangkah lebih baiknya jika kita mencari kebenaran terlebih dahulu.

Informasi palsu yang menyebar menjadi ujaran kebencian akan merusak integrasi sosial yang telah dibangun sejak awal.

ReviewScientificTechnology

FacebookGojekgoogleGrabhoaxinformasiInstagramMedia OnlineMedia SosialrasismesaraSEOSMSSocial MediaTokopediaTwitterujaranujaran kebencianuuUU-ITEWebsite

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *